Jumat, 28 Oktober 2011

Penanganan Korban Bencana Alam


Surabaya (mediabidan.com) – Dewasa ini, Indonesia tengah banyak dilanda bencana alam dalam skala yang cukup besar. Hal ini sangat memungkinkan terjadinya musibah massal. Oleh karena itulah penanganan terhadap korban merupakan hal penting yang harus diutamakan.
Setidaknya korban ada 2 macam, yakni korban yang masih hidup dan korban yang telah meninggal, maka dalam penanganannya pun memiliki cara dan teknik yang berbeda.
Jika selama ini, penitikberatan penanganan korban bencana alam hanya pada korban yang masih hidup, maka sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya tepat. Menurut dokter spesialis forensik RSUD Dr. Soetomo Prof. Dr. Med. H.M. Soekry EK, dr,SpF(K), DFM, penanganan korban bencana alam yang telah meninggal seharusnya juga menjadi prioritas.
Dikatakannya, pentingnya penanganan korban yang telah meninggal tersebut lebih terkait pada keluarga dan kerabat yang ingin sesegera mungkin memastikan korban yang meninggal tersebut adalah keluarganya atau bukan. ”Di sinilah peran Disaster Victim Identification (DVI),” tegasnya.
Terkait dengan hal tersebut, maka peran evakuasi dan identifikasi seharusnya tidak dibebankan pada Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) saja, melainkan juga dituntut peran aktif dari tenaga-tenaga kesehatan yang lainnya, seperti dari pihak Dinas Kesehatan dan puskesmas-puskesmas terdekat.
Oleh karena itulah, dalam Pendidikan dan Pelatihan DVI yang diselenggarakan di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) lantai 3 RSUD Dr. Soetomo 10-11 Desember 2010 lalu itu memang ditekankan kepada tenaga-tenaga medis, khususnya dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan tenaga-tenaga kesehatan dari Puskesmas. ”Kalau bukan mereka siapa lagi. Sudah waktunya mereka juga dibekali kemampuan dasar identifikasi,” tegas Soekry.
Dijelaskannya, ada 5 tahapan DVI, yakni penatalaksanaan TKP, jenazah dibawa dan diperiksa di rumah sakit, pengumpulan antemortem, pengumpulan post mortem, pencocokan data antemortem dengan post mortem. Menurut Soekry, inti dari DVI adalah antemortem dan postmortem.
Antemortem adalah data jenazah sebelum meninggal yang didapatkan dari keluarga korban, sedangkan postmortem adalah data setelah korban meninggal. ”Setelah antemortem dan post mortem terkumpul, dilakukan pencocokan antara kedua data tersebut,” terang Soekry.
Sedangkan metode yang bisa dipakai adalah metode primer dan sekunder. Metode primer meliputi data genetik jenazah yang berupa sidik jari, susunan gigi, DNA, dsb. Sedangkan metode sekunder berupa ciri-ciri fisik korban, foto, baju, dsb.
Direktur RSUD Dr. Soetomo Dr.dr. Slamet R. Yuwono, DTM&H., MARS, membenarkan bahwa RSUD Dr. Soetomo yang merupakan RS Pusat Tersier merupakan rumah sakit yang kerap menjadi rujukan bagi pasien dari RS atau puskesmas dari daerah sekitar, termasuk untuk keperluan identifikasi jenazah korban bencana.”Oleh karena itulah bantuan tenaga medis untuk ini penting sekali,” ujarnya.  (Arif Junianto/mas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar